Warga Lamteungoh tak Gentar Isu Tsunami, Susun Master Plan Desa
Posted by pugar pada Oktober 5, 2007
BANDA ACEH – Di tengah merebaknya isu akan terjadinya gempa dan tsunami susulan di sejumlah wilayah di Aceh, sebanyak 249 jiwa warga Desa Lamteungoh dan Lamtutui terus membangun kembali desa mereka yang telah porak-poranda dihantam gempa dan tsunami tanggal 26 Desember 2004. Bahkan, bersama aktivis dari Yayasan Pugar, warga dari dua desa ini telah merampungkan draf perencanaan pembangunan kembali (master plan) desa mereka.
Kami tidak gentar dengan isu akan terjadi lagi tsunami. Kita tetap yakin bahwa bisul tidak akan tumbuh di tempat yang sama dalam waktu dekat, ujar Baharuddin, Keuchik (Kades) Lamteungoh, Kecamatan Peukanbada, Aceh Besar, kepada Serambi, Sabtu (2/4).
Kata-kata bisul tak tumbuh di tempat yang sama pernah diucapkan Baharuddin menjawab Wagub NAD, Azwar Abubakar yang berkunjung ke desa mereka akhir Januari lalu, sebulan setelah musibah gempa dan tsunami meluluhlantakkan Aceh.
Pria yang akrab disapa dengan sebutan Keuchik Baha itu mengatakan, keyakinan warganya untuk kembali ke desa mereka juga didasarkan pada firman Allah bahwa kematian adalah kehendak Allah yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Jika seseorang telah sampai waktunya (untuk mati), tidak seorang pun yang bisa menolaknya. Ke manapun kita lari, kematian pasti akan datang, katanya.
Tapi, katanya, hal itu tidaklah menjadikan warga desanya pasrah menghadapi berbagai kemungkinan. Jika ada kemungkinan-kemungkinan buruk, kita tetap berusaha untuk menghindar. Seperti pada Senin (28/3) malam lalu, saat gempa terjadi kami mengungsi ke kawasan pegunungan. Tapi, itu hanya sesaat. Setelah dua jam kami semua kembali lagi ke kampung. Dan yang terpenting tidak ada kepanikan yang berlanjut di kalangan warga kami, katanya.
Pria yang juga menjabat sebagai Panglima Laot di kawasan itu mengatakan, sebanyak 249 warga Lamteungoh yang selamat dari musibah tsunami, setiap hari terus bergotongroyong membersihkan kampung, membangun fasilitas umum desa, dan membangun rumah-rumah penduduk. Kita juga telah mempersiapkan acara khaduri (peringatan) 100 hari (kematian), yang akan dilaksanakan di balai Desa Lamteungoh pada, Rabu (6/4), katanya.
Kami mengundang pemerintah, wartawan, LSM dan semua pihak yang telah membantu kami untuk hadir dalam acara tersebut. Kami juga berharap kepada warga Lamteungoh dan Lamtutui yang berada di rantau agar pulang pada hari Rabu, untuk bersama-sama mengirimkan doa kepada orang-orang yang telah mendahului kita, tambah Keuchik Baha sambil mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu mereka.
Menurut Keuchik Baha, sebanyak 1.045 warganya meninggal dunia dalam musibah gempa dan gelombang tsunami. Kami sebagai generasi penerus yang masih selamat dan saat ini berada di pengungsian, akan pulang ke desa kelahiran untuk mengadakan kenduri dan berdoa kepada semua warga desa kami yang telah tiada, katanya.
Desa Lamteungoh adalah salah satu daerah yang paling parah dihantam gelombang tsunami. Desa ini terletak di jalur menuju ke kawasan Ujong Pancu yang dulunya terkenal sebagai lokasi memancing. Sebelum musibah tsunami, Desa Lamteungoh berada sekitar 500 meter dari bibir pantai. Sekarang hanya berjarak sekitar 300 meter dari pantai, ujar Saifuddin, aktivis LSM Pugar yang bergerak di bidang advokasi masyarakat pesisir.
Master plan
Saifuddin yang bertindak sebagai koordinator pendamping warga di dua desa itu mengatakan, karena besarnya keinginan warga Lamteungoh dan Lamtutui untuk kembali ke desa mereka, Yayasan Pugar memfasilitasi suatu pertemuan antar warga desa untuk merencanakan pembangunan kembali desa mereka, yang pada level lebih tinggi dikenal dengan istilah master plan. Dikatakan, selain di dua desa itu, Pugar juga memfasilitasi perencanaan pembangunan Gampong Lampineung, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar.
Menurut Saifuddin, pertemuan antarwarga desa yang melahirkan perencanaan pembangunan desa itu, dilaksanakan untuk menampung aspirasi warga dalam proses pembangunan kembali desa mereka. Lagi pula, jika ada pihak-pihak yang ingin membantu, kita telah siap dengan rencana pembangunan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat, katanya.
Berdasarkan hasil diskusi dalam pertemuan tersebut, kata Saifuddin, ada beberapa poin yang harus segera dilakukan pembenahan pada tiga desa itu, antara lain bidang ekonomi meliputi, nelayan, peternakan, dan pertanian. Kemudian tata ruang gampong meliputi, peta gampong, rumah-rumah, jalan, saluran air, fasilitas umum, masjid, sekolah, sarana olahraga dan klinik. Selanjutnya, bidang kesehatan, pendidikan, dan penguatan struktur kelembagaan mukim dan gampong.
Sumber : Serambi Indonesia