Yayasan Pugar

Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Kelautan Aceh

Warga Lamteungoh tak Gentar Isu Tsunami, Susun Master Plan Desa

Posted by pugar pada Oktober 5, 2007

BANDA ACEH – Di tengah merebaknya isu akan terjadinya gempa dan tsunami susulan di sejumlah wilayah di Aceh, sebanyak 249 jiwa warga Desa Lamteungoh dan Lamtutui terus membangun kembali desa mereka yang telah porak-poranda dihantam gempa dan tsunami tanggal 26 Desember 2004. Bahkan, bersama aktivis dari Yayasan Pugar, warga dari dua desa ini telah merampungkan draf perencanaan pembangunan kembali (master plan) desa mereka.

Kami tidak gentar dengan isu akan terjadi lagi tsunami. Kita tetap yakin bahwa bisul tidak akan tumbuh di tempat yang sama dalam waktu dekat, ujar Baharuddin, Keuchik (Kades) Lamteungoh, Kecamatan Peukanbada, Aceh Besar, kepada Serambi, Sabtu (2/4). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Press Release | Tinggalkan sebuah Komentar »

Pemerintah Diminta Tepati Janji Alokasikan Dana untuk Gampong dan Mukim

Posted by pugar pada Oktober 5, 2007

BANDA ACEH – Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Aceh, didesak segera merealisasikan alokasi dana untuk peningkatan pembangunan dan ekonomi masyarakat di level gampong dan mukim.

“Dengan adanya dana yang sangat besar di Aceh saat ini, termasuk DAU Aceh tahun 2008 yang mencapai 3.7 triliun lebih, selayaknya harus bermanfaat untuk masyarakat, demi pembangunan dan kesejahteraan yang ingin kita capai. Harus ada niat baik, tulus, dan ikhlas Pemerintah Aceh dan kabupaten/kota untuk mengalokasikan dana itu dikelola sendiri oleh pemerintah gampong dan mukim di Aceh secara mandiri, tranparan dan bertanggung jawab,” kata Deputi Direktur Yayasan Pugar, Saifuddin NH dalam siaran persnya kepada Serambi Jumat (24/8). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Press Release | Tinggalkan sebuah Komentar »

Membangun Ekonomi Kaum Pesisir

Posted by pugar pada September 9, 2007

Seorang lelaki tua, berkulit hitam, penuh peluh bersama anaknya, sambil berjongkok menjemur ikan teri dan ikan kayu yang baru saja dibersihkan dan digarami. Mereka menjemur ikan itu, di tengah terik matahari nan membakar pantai ujung serangga, sebuah wilayah pantai yang terletak di kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya. Sesekali ia berdiri meluruskan pinggangnya, agar tidak penat. Sesekali pula ia menyeka keringat yang membasahi keningnya yang telah mengerut, karena termakan usia dan beratnya tantangan hidup di pinggir laut yang terletak di wilayah samudra India itu.

Aku, bersama seorang teman dari Swiss Contact Medan, Pak Ate dan ditemani seorang sopir yang mengantarkan kami ke tempat itu. Kami berhenti dan mengucapkan salam pada lelaki tua itu. Ia menyambut dengan balasan salam yang agak lirih, namun sangat bersahabat. Ia mendekati kami dan saling bersalaman. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini | Tinggalkan sebuah Komentar »

Fungsi Lembaga Adat Panglima Lhok Perlu Dimaksimalkan

Posted by pugar pada April 5, 2007

Nelayan Aceh sebagaimana nelayan tradisional umumnya merupakan kelompok masyarakat yang penuh keprihatinan. Profesi nelayan yang mereka geluti umunya berlangsung akibat warisan secara turun-menurun. Sedikit sekali nelayan yang dapat keluar dari persoalan-persoalan kemiskinan dan keterbelakangan. Berbagai macam penyebab ketertinggalan nelayan tradisional ini adalah akibat penggunaan peralatan yang realtif sederhana, manajemen hasil tangkapan yang tidak berpihak, maraknya pencurian ikan oleh kapal asing. Berlangsungnya illegal fishing (pukat trawl, pengeboman dll.). Dan nelayan umumnya masih banyak yang berprofesi sebagai buruh pada kapal-kapal toke. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Press Release | Tinggalkan sebuah Komentar »

Taman Laut Sabang

Posted by pugar pada Maret 13, 2007

TAMAN WISATA ALAM DAN LAUT PULAU WEH-SABANG

Keadaan Umum
Pulau Weh terletak di ujung Propinsi Daerah Istimewa Aceh yang dinyatakan sebagai daerah paling barat dari wilayah Republik Indonesia dan di pulau inilah terdapat Tugu Kilometer Nol Indonesia. Kawasan Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Laut Pulau Weh terletak di Kotamadya Sabang dan ditunjuk berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 928/Kpts/Um/2/1982 dengan luas Taman Wisata Alam 1.300 Ha sedangkan Taman Wisata Laut ditetapkan dengan luas 2.600 Ha termasuk Pulau Rubiah dan Pulau Seulako.
Karakteristik topografi umumnya bergelombang s/d curam dengan gunung tertinggi Gunung Iboih (480 mdpl). Jenis tanah terdiri dari alluvial dengan solum tanah yang dangkal (4-15 cm) dan drainase umumnya jelek. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Potensi Alam, Wisata | 1 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.